Menerjang ombak ke Wayag kecil alias Pianemo


salah satu pulau kapur di pianemo
Setelah melewati pulau Arborek, kapal kayu yang kami sewa ke Pianemo menuju lautan lepas. Ombak sangat tinggi dan tak bersahabat. Untung saja arah arus menuju ke arah Pianemo, sehingga kapal tak kesulitan melawan arus. Namun Mendung tebal sudah menghadang di depan kami.

Ombak tak kunjung berhenti. Air laut sudah hampir mencapai ujung kapal, dan sebagian air laut berebut masuk kapal. Pak Abraham  pemilik kapal sibuk mengeluarkan air dari dalam kapal kayu yang memuat 4 orang. Kami yang berada di kapal kayu basah semua, bak tikus kecebur got. Semua peralatan foto sudah aman ditutup dengan terpal yang dibawa dari penginapan.

"Pantes saja sewa kapal kayu lebih murah ya, karena plus-plus diguyur air laut" kata suamiku.

"Bwahahahaahahahahah" kami tertawa bersama. Berusaha menenangkan diri ditengah laut yang bergejelok.



Perjalanan ke Pianemo ini masih ditambah dengan hujan di tengah jalan. Cuaca di laut  memang tak pernah bisa ditebak. Pagi sekitar pukul 8 pagi cuaca di pulau Gam sangat cerah. Kami sudah membayangkan seperti apa cerahnya selama perjalanan.

Namun takdir berkata lain, awan tebal menghadang di tengah jalan dan kami harus merasakan hujan lebat di tengah laut.

kapal kayu memasuki gugusan pulau kapur pianemo

Setelah melewati ombak dan hujan, akhirnya pulau karst Pianemo terlihat dari jauh. Wah senangnya... melihat gugusan pulau yang indah. Sebelah kiri kami ke arah Mellisa garden.

salah satu pulau di pianemo

memasuki pianemo

pulau pulau kapur (karst) di pianemo


Kapal kayu kami memasuki gugusan pulau kapur Pianemo, arus mulai berkurang. Kami takjub dengan gugusan pulau-pulau ini dan air yang berwarna hijau toska. Tak lama kami melihat gunung kapur yang menjulang, lebih besar dari pulau-pulau kapur yang lain. Disana juga ada dermaga tempat kapal-kapal bersandar.


dermaga menuju bukit di pianemo

kru kapal kayu, roy mengarahkan kapal

Saat itu, bulan Juli, tak banyak kapal di Pianemo. Hanya ada 2 kapal besar dan satu kapal kayu milik pedagang yang warga Raja Ampat.

"Padahal bila sedang banyak turis, kapal kapal ini parkir bisa sampai ke pulau sana" ujar pak Abraham sambil menunjuk pulau kapur kecil diujung.

"Bahkan disini hampir kebakaran, karena salah satu kapal yang panas. Untung saja bisa dipadamkan. kalau kebakaran bahaya bisa kena kapal lain" tambahnya.

Sampai di dermaga dua orang turis asing sedang asyik berjemur. Meraka sudah terbiasa menggunakan bikini di sini. Lalu Kami langsung menuju ke tangga yang membawa kami ke puncak bukit.

turis asing sedang berjemur

Berbeda dengan di Wayag, di Pianemo tak perlu repot untuk menuju ke atas bukit. Dari bawah ada tangga kayu yang memudahkan pelancong naik ke atas. Tangga kayu ini diresmikan penggunaannya oleh pak presiden SBY.

tangga menuju puncak bukit

tempat mengambil foto

Sekitar 10 menit-lah kami sudah sampai atas menggunakan tangga,  Lumayan juga buat yang jarang olahraga. hehehe

Nah.. beginilah pemandangan Pianemo dari atas. Miripkan sama Wayag. Yang pasti bagus banget.

pianemo


pianemo

Di Pianemo ini juga ada karst yang membentuk bintang, akibat proses alam. Namun dari atas bukit, karst yang membentuk bintang ini tidak keliatan.

Asyiknya berlama-lama atas Pianemo, namun banyak pengunjung yang harus bergantian untuk mengambil gambar. Belum lagi panasnya..... hahaha

Banyak yang bisa dilakukan di Pianemo ini, selain snorkeling atau diving juga bisa ber-kano disini. Di Pianemo ini ada juga homestay. Namun para pelancong yang akan singgah di homestay ini harus bayar 300 ribu perkapal. Ah.. sayang sekali..

pianemo
Pianemo atau fam island sering juga disebut Wayag kecil atau Wayag KW. hahahahaha... karena memang bentuknya seperti Wayag. Bila ke Wayag biayanya terlalu mahal dan jauh, Pianemo adalah alternatif pengganti.

Sebab, kata orang tidak sah ke Raja Ampat kalau gak ke Wayag. Wayag adalah salah satu ikon di Kepulauan Raja ampat yang berupa gugusan pulau-pulau kapur alias karts. Wayag ini memang sangat Indah, apalagi bila di lihat dari atas bukit.  Gugusan pulau dikelilingi laut dengan degradasi warna biru dan hijau yang sangat cantik.

Namun masalahnya, Wayag tak mudah di jangkau. Selain jaraknya jauh, arus dan gelombangnya juga tinggi. Jadi harus menggunakan perahu ukuran besar. Sewa perahu ke wayag dari pulau gam sekitar 15 juta, dengan kapasitas 10 orang lebih. Sehingga, untuk meringankan biaya, ke Wayag harus sharing cost.

Sayangnya, ke Raja Ampat kali ini hanya berdua. hiks hiks... akhirnya kami memutuskan gak Wayag. Tapi kami di beri alternatif untuk ke tempat mirip Wayag dan biayanya lebih murah. Namanya Pianemo.

salah satu pulau karst di pianemo
Pianemo juga gugusan pulau kapur alias karst. Bedanya dengan Wayag, hanya bentuk pulaunya saja. di Wayag karst nya runcing ke atas seperti tumpeng. Namun di Pianemo, bentuknya bulat ke atas.

Pianemo alias Wayag kecil ini lebih mudah di jangkau dari pulau Gam tempat kami menginap. Dengan menggunakan perahu perjalanan hanya sekitar 1 hingga 2 jam. Tergantung kecepatan perahu dan ombak.

Menyewa perahu atau kapal ke Pianemo juga tak murah, buat kami berdua. Perahu dengan muatan enam hingga dalapan orang biaya sewanya sekitar 3,5 juta rupiah. Hiks.. hiks... , Namun bapak pemilik homestay ini berbaik hati dan mencarikan kami perahu kayu untuk di sewa. Biayanya pasti lebih murah yaitu 2 juta setengah. hiks hiks.. mahal mahal juga ya...

Tapi menurut saya, bila ke Raja Ampat, mampirlah ke Wayag atau minimal ke Wayag Kecil. hehehehe..

selamat berlibur....
Posting Komentar