Ketika Napoleon Bonaparte tersihir kemegahan Istanbul



"If the world were a single state, Istanbul would be Its capital" 
-Napoleon Bonaparte-

Sekitar akhir tahun 1700-an dan awal 1800-an Napoleon Bonaparte, jenderal besar asal Perancis melakukan kerjasama dan menggalang kekuatan dengan kekaisaran Ottoman Turki. Kerja sama ini untuk melawan Rusia, musuh besar Prancis yang sulit ditaklukkan.


Napoleon yang juga pernah datang ke Turki, rupanya menyimpan kekaguman terhadap kota Istanbul. Bahkan ia mengatakan, "Bila dunia ini adalah negara, Istanbul pasti akan jadi ibukotanya". Kutipan Napoleon itu hingga kini masih diingat oleh banyak orang. 

Namun hingga kini belum ada yang tau apa maksud omongan Napoleon ini, apakah Istanbul dipilih jadi ibukota karena keindahannya, atau karena letaknya yang strategis. Yap, Istabul ini terletak dipersimpangan antara benua Asia dan Eropa. Selain strategis,  kota terbesar di Turki ini juga sangat indah karena dipisahkan oleh selat Bophorus. 


Kota Istanbul ini sangat mengagumkan dan menjadi rebutan banyak negara. Istanbul yang dulu bernama konstantinopel pernah menjadi ibukota dari 4 Kekaisaran, yaitu Romawi, Romawi Timur atau Bizantium, Latin dan Ottoman. Di zaman pertengahan kota ini adalah kota terbesar dan termakmur di Eropa. Sisa-sisa kemegahan dan keindahan kota ini masih ada hingga sekarang.



Di kawasan kota tua Sultanahmed, peninggalan sejak kekaisaran Bizantium masih terawat dengan baik. Misalnya saja Museum Aya Sofia atau yang lebih dikenal dengan Hagia Sophia. Museum yang dibangun tahun 537 mahesi ini pernah menjadi gereja katedral terbesar di dunia hampir seribu tahun, sebelum katedral sevilla dibangun tahun 1520.


Di era kekaisan Bizantium, Hagia Sophia adalah gereja ortodoks. Kemudian di tahun 1553, di bawah kekaisaran Ottoman, Hagia Sophia diubah menjadi mesjid hingga tahun 1931. Tahun 1935, Bangunan dengan arsitektur khas bizantium ini berubah menjadi museum.


Karenanya, di dalam Hagia Sophia ada lafadz Alloh dan Muhammad SAW serta ada lukisan bunda Maria dan Nabi Isa As. Kekaisaran Ottoman yang mengubah gereja menjadi mesjid tidak menghilangkan lukisan-lukisan yang dibuat di dalam Hagia Sophia.



Selain Hagia Sophia, di kawasan Sultanahmed juga terdapat mesjid Sultanahmed yang letaknya masih dekat dengan museum Hagia Sophia. Mesjid ini dibangun sekitar tahun 1600 an masehi dimasa pemerintahan Sultan Ahmed I. Mesjid ini juga disebut Blue Mosque karena warna cat interiornya di dominasi warna biru. Mesjid ini masih bersebelahan dengan situs kuno Hippodrome





Di sekitar kota Istanbul juga masih terdapat benteng peninggalan kekaisan Bizantium dan masih digunakan di masa kekaisaran Ottoman. Benteng ini melindungi kota dari serangan bangsa-bangsa lain. Mengingat kota Konstatinopel menjadi rebutan banyak pihak.

Benteng ini mengelilingi istana Topkapi, yang pernah dijadikan kediaman para kaisan di era Ottoman hingga tahun 1800 an masehi.




Selain Blue Mosque, Istanbul juga punya Mesjid Suleiman. Mesjid yang dibangun di masa pemerintahan Sultan Suleiman I ini terinspirasi oleh arsitektur Hagia Sophia. Dari jembatan galata, mesjid Suleiman ini terlihat jelas, Kontur kota Istanbul yang berbukit-bukit, membuat kita ini terlihat cantik dari selat Bosphorus.


Selain memiliki peninggalan sejarah, Istanbul saat ini sudah menjadi kota metropolitan dengan gedung-gedung tinggi dan moderen. Bila kita menyusuri selat Bosphorus, akan terlihat wajah kota Istanbul yang unik, yaitu pencampuran antara masa lalu dan masa kini. 


Istanbul, pesonanya memang sulit dilupakan. Pagi hari sarapan di roof top hotel sambil menikmati matahari pagi yang mengiringi aktivitas di selat Bosphorus. Makan siang dengan kebab dan berjalan-jalan ke masa lalu mengunjungi Hagia Sophia dan Topkapi. Sholat di mesjid sultanahmed dan Suleiman. Sore hari menikmati matahari tenggelam di jembatan Galata yang diiringi suara camar. Malam hari menyantap sandwich ikan dari kapal-kapal tradisional.

What a beautiful life :)

Jadi pingin ke Istanbulkan, hehehehe..

Enjoy Istanbul

Sari :)






Posting Komentar