Uniknya Terasering Panyaweuyan Argapura, Majalengka Jawa Barat



Terasering yang paling terkenal di Indonesia ada di desa Ubud Bali. Terasering atau bercocok tanam di lereng bukit dengan sistem berunduk-unduk ini sangat cantik bila dilihat dari kejauhan. Selain di Bali, satu lagi terasering yang cukup terkenal, yaitu di Majalengka Jawa Barat. Uniknya, terasering ini bukan untuk menanam padi, namun menanam daun bawang, bawang merah hingga kentang.

Terasering di Majalengka ini berada di daerah yang di sebut Panyaweuyan, desa Argamukti, kecamatan Argapura, Majalenga Jawa Barat. Wilayah ini masih di kaki gunung Ciremei, yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat.

Menuju ke lokasi terasering ini sebenarnya gak terlalu sulit. Bila menggunakan mobil pribadi, bisa lewat tol cipali dan keluar ke arah Majalengka. Perjalanan dari Jakarta hingga ke terasering Panyaweyan sekitar 2 setengah hingga 3 jam, targantung macet atau gak lalu lintas di jalan tol. Sebagai panduan, saya pakai google map.

Hari sabtu siang sekitart pukul 10, tol cipali lancar jaya. Jadi sekitar pukul 2 siang kami sudah sampai di sekitar Panyaweuyan. Soalnya sempat mampir lama di rest area karena harus tidur sebentar sambil cari kopi. Apalagi tol cipali yang luruuuus terus, bikin ngantuk.

Sampai Panyaweuyan, kami gak bisa langsung menuju ke lokasi karena cuaca yang berkabut. Terasering yang berada di wilayah perbukitan ini tertutup kabut, maklum kami ke sana saat musim hujan.


Akhirnya, kami mampir dulu ke air terjun yang berada dekat perbukitan terasering. Namanya air terjun muara jaya atau disebut juga curug muara jaya. Bila ingin menuju ke terasering, kita akan melewati air terjun ini. Lokasinya memang agak ke dalam sedikit dan harus menuruni anak tangga yang lumayan banyak. Tapi begitu melihat keindahan air terjun ini, rasa lelah pasti hilang. Masuk air terjun ini harus bayar biaya retribusi 5 ribu rupiah perorang.



Setelah menikmati air terjun, jangan lupa naik ke atas ya. Hehehe... jalan menanjaknya lumayan  bikin capek deh... kalau cepat dari lokasi air terjun menuju tempat parkir di atas, sekitar 10-15 menit. :p

Karena hujan, sore itu kami putuskan untuk menginap di rumah penduduk yang memang disewakan. Tarifnya 300 ribu untuk satu rumah dengan satu kamar dan kamar mandi di luar.

Rumah yang kami sewa ini ada di atas bukit. Lumayan besar dan di dalamnya sudah disediakan kasur-kasur tipis, selimut serta bantal. Cuaca yang tak bersahabat, hujan dan petir, membuat suasana agak sedikit mencekam. hehehe.. padahal sih cuma perasaan aja :p



Besok pagi, usah sholat subuh kami langsung menuju ke terasering Panyaweuyan. Jalan menuju terasering ini berkelok-kelok dan naik turun bukit yang cukup terjal. Jadi kamu harus hati-hati bila bawa kendaraan sendiri. Apalagi jalan yang kita lewati gak lebar, hanya cukup satu mobil lebih dikit. Kalau papasan sama mobil lain, ya harus mengalah. hehehe

Namun sayang, sunrise yang kami tunggu tertutup oleh awan tebal mendung sisa semalam. Tapi kami masih bisa menikmati terasering yang cantik di Majalengka.

Terasering ini sudah ada sejak ratusan tahun. Bahkan menurut penuturan warga setempat, yang mengelola lahan saat ini sudah generasi ketiga. Wah.. berarti sudah ada cucunya banyak ya.






Uniknya, terasering ini tidak menanam padi, seperti di Ubud, Bali. Mereka menanami lahan dengan daun bawang, bawang merah dan beberapa jenis sayur. Alasannya, daun bawang ini cepat sekali dipanen. Kalau bawang merah bisa memakan waktu 3 bulan, untuk daun bawang bisa dipanen 2 bulan sekali.




Ketika saya ke sana, beberapa petani sedang memanen daun bawang mereka. Ternyata daun bawang ini sudah di laku dan di jual ke pedagang besar. Para pedagang besar ini, istilahnya tengkulak lah, sudah membeli daun bawang sejak mereka ditanam. Sehingga harganya bisa lebih murah. Bagi para petani, yang penting mereka gak rugi lah...

Psssstt.. kalau kamu beruntung, para petani yang baik hati ini akan memberikan kamu daun bawang. Hehehehe.. waktu ke sana saya dikasih daun bawang banyak banget, seger-seger lagi. Mereka dibayar gak mau, langsung pergi begitu saja. Lumayan ya, rezeki anak sholeh.... hehehe :P

Karena unik dan indahnya terasering di desa Panyaweuyan, membuat tempat ini menjadi terkenal. Banyak warga dari Majalengka dan daerah lain datang ke tempat ini. Kebanyakan adalah pehobi fotografi yang ingin mengabadikan terasering.













Tersering Panyaweuyan ini berada di daerah perbukitan dan di kaki gunung Ciremei. Saat kami datang ke sana di musim hujan, sekitar pukul 8 pagi kabut sudah mulai turun. Mungkin bila kamu datang di musim panas, udara di sana lebih hangat dan matahari bersinar sepanjang hari.

Gimana tertarik untuk melihat terasering di Panyaweuyan, Majalengka? Bila iya dan ingin mengabadikan terasering ini, jangan lupa bawa lensa yang memiliki jangkauan jauh. Bisa lensa fix bisa lensa zoom.

Happy Travelling

sarie :)
Posting Komentar