Sehari Keliling Teheran, Iran (1)





Setelah terbang sekitar 7 jam dari Kuala Lumpur, akhirnya menjelang tengah malam kami tiba di bandara Internasional Teheran Imam Khomeini. Karena sudah mengurus visa dari Jakarta, kami dengan mudah melewati imigrasi dan mengambil bagasi. Sebelum mencari taksi, saya menukar dolar dengan mata uang Iran Riyal.

Taksi dengan mudah dijumpai di depan bandara. Walaupun saat itu dini hari, sekitar pukul satu malam, tapi supir taksi masih banyak. Jadi dengan mudah kami menuju hotel. Sampai hotel sekitar jam 2 pagi. Karena besok pagi kami harus memanfaatkan waktu seharian untuk keliling kota Teheran. Mau kemana?

Pagi-pagi sekitar pukul 7 pagi kami sudah bangun dan siap-siap untuk sarapan. Sarapan di Teheran ini berbeda banget dengan di Indonesia. Di sini sarapannya dikasih roti yang mirip roti pita, lalu selai, keju, madu dll. Juga sepoci teh dan cangkirnya. Kenyang gak? Hmmm.. yah lumayan buat ganjel perut. hehehe

Di penginapan ternyata kami bertemu dengan wisatawan asal Indonesia lain, yaitu Obe dari Jakarta dan 3 orang dari Bali. Karena belum menukar dolar, akhirnya kami sepakat untuk menuju ke Grand Bazaar Teheran dulu. Grand Bazaar adalah nama lain dari pasar. Pasar tradisional di Iran disebut Bazaar. Bazaar ini ada di dalam gedung yang sudah berumur ratusan tahun. Plus arsitektur ala Iran.





Karena letaknya dekat dengan hotel, kami akhirnya sepakat ke Grand Bazaar dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan kami menikmati kota Teheran yang terlihat sepi. Hanya beberapa kendaraan melintas. Mungkin masih pagi ya... ehehehe







Kami juga melewati Golestan Palace yang lokasinya dekat sekali dengan Grand Bazaar. Namun karena hari itu 2 hari menjelang idul fitri plus hari jumat, Golestan palace buka jam satu siang. baiklah...



Sampai Grand Bazaar, kami kecewa karena ternyata hari jumat tutup. Wah..sayang sekali. Hanya ada beberapa toko yang buka, seperti toko buah, toko bumbu ataupun toko roti.






Kami mencari tempat penukaran uang, tapi tak ada yang buka. Namun ternyata ada orang-orang yang menawarkan menukarkan dolarnya. Kursnya tentu saja lebih mahal, tapi ini jadi satu-satunya alternatif menukar dolar ke riyal. Di Bandara saya menukar dolar dengan kurs satu dolar = 37.500  riyal iran. Sementara di orang-orang ini satu dolar = 37.100 riyal. yah rugi sedikit asal bisa punya riyal hari itu. hehehe




Karena Grand Bazaar tutup, tujuan langsung kami alihkan ke Darband, tempat wisata paling populer di Tehran yang berada di lereng bukit. Darband adalah  kota tua yang berada di shermira, sebelah utara Teheran.

Setelah mendapat info dari warga lokal, menuju ke Darband harus naik metro dan turun di stasiun Tajrish. Stasiun ini paling ujung, jadi gak akan kesasar deh... hehehe.



Dari Grand Bazaar kami naik Metro. Hari itu memang kami sedang beruntung, sebab selama hari libur menjelang idul fitri semua metro digratiskan. Hehehe... lumayan ya. Metro dari stasiun di Grand Bazaar ke tajrish cukup lama sekitar setengah jam-an. Yang unik naik metro di Teheran adalah, penumpang perempuan dipisah dengan laki-laki. Gerbong perempuan ada di belakang. Nah...



Keluar Stasiun Metro Tajrish kami langsung disambut dengan pasar alias Grand Bazaarnya Tajrish. Waaah.. senangnya, akhirnya bisa merasakan belanja dalam gedung tua dengan aneka toko di sepanjang jalan. Sangat menarik dan saya suka banget dengan barang-barang di sini.





Sebelah Grand Bazaar Tajrish, kami juga menemukan tempat ziarahnya shiah di Utara Teheran, namanya Emanzadeh Saleh. Tempat ini bentuknya seperti mesjid, dengan kubah besar dan tiang-tiang tinggi. Namun tempat ziarah ini sangat menarik, karena ukiran disekeliling bangunan. Di dalam bangunan ini dihiasi dengan kaca-kaca yang membuat ruangan berbeda.







Dalam bangunan Emanzadeh Saleh ini ada makam putra Imam Shiah Musa Al Khadim. Saat saya ke sana, banyak pengunjung yang datang untuk ziarah. Untuk wanita, mereke memakai kedurung hitam yang ditutup seluruh tubuh. Namun untuk pendatang seperti saya, diwajibkan pakai penutup tubuh dengan kain warna-warni.




Setelah puas melihat Emanzadeh Saleh, kami langsung menuju ke tujuan utama, Darband. Dari seberang stasiun metro ada pangkalan taksi. Hehehe.. kalau di Indonesia namanya pangkalan taksi. Di sana taksinya bisa diisi 4 orang dan menuju Darband. Tarifnya 500 ribu riyal Iran.

Taksinya ini unik, karena hampir semua mobil tua yang gak pakai AC. Dah gitu pak supirnya sukanya ngebut. Jadi gak sampai setengah jam kita sudah di kaki desa Darband. Ciri khasnya adalah patung pendaki yang jadi ikon tempat ini. :)



Saat ke sana, akhir bulan juni dan 2 hari menjelang lebaran, jadi sudah masuk musim panas. Suhu udaranya pun sudah mencapai 40 derajat celcius. Woaaah.... panasnya...



Namun begitu masuk ke desa Darband, udara sejuk langsung menyeruak. Jalan yang menanjak agak terbantu dengan sejuknya udara siang itu. Udara sejuk ini berasal dari pohon-pohon di sekitar dan sungai yang mengalir deras.





Orang Teheran suka sekali wisata ke Darband. Karena tempat ini sangat sejuk dan jauh dari polusi udara kota. Maklum, udara di Taheran saat musim panas bisa mencapai 40 derajat celcius.

Sepanjang jalan, baik di kiri dan kanan banyak restoran atau tempat makan yang menawarkan kesejukan. Rumah dan restoran juga dihiasi bunga-bunga yang indah. Tempat makan ini baru buka di malam hari, sehingga kami gak bisa singgah untuk makan di sana. (saya kebetulan lagi gak puasa :P)

Menjelang jam 2 siang, kami turun kembali dan naik taksi ke metro Tajrish. Tujuan Selanjutnya adalah Istana Golestan, Azadi Tower dan menara Milad :)

Selanjutnya....


Posting Komentar