Kisah Kereta Api di Lawang Sewu















Bila anda berkesempatan ke Semarang, Jawa Tengah jangan lupa untuk menyempatkan berkunjung ke Lawang Sewu.Gedung kuno yang terletak di jalan Pemuda, Semarang ini sangat unik. Setelah sempat kosong dan tekenal angker, tahun 2011 Lawang Sewu dipugar. Setelah pemugaran, gedung tua yang indah ini telah disulap menjadi museum kereta api.

Kalau kamu penggemar kereta api, berkunjung ke museum ini jadi hal yang sangat menarik. Semua hal tentang sejarah perkeretaan di Indonesia ada di gedung ini.



Lawang Sewu dulunya adalah kantor pusat perusahaan kereta api Belanda di Indonesia, namanya Spoorweg Nederlandsch Maatchappij (NIS). Nama Lawang Sewu diambil dari bahasa jawa, yaitu lawang yang berarti pintu dan sewu berarti seribu. Sehingga artinya adalah gedung yang memiliki seribu pintu.

Sejarah kereta api di Indonesia dimulai tahun 1873, dengan pembangunan rel kereta api pertama rute Semarang-Solo-Yogya, termasuk Kedung Jati- Ambarawa sepanjang 209 kilometer. Operasional kereta api ini berada di bawah NIS, perusahaan perkeretaapian yang berpusat di Den Haag Belanda dan mendapat konsesi dari pemerintah Belanda . Tahun demi tahun, rel kereta api terus bertambah. Tahun 1893 jalur kereta api lain dibuat, yaitu antara Yogya-Brosot, Yogyakarta-Ambarawa melewati Magelang dan Secang. Jalur kereta api lain yang dibuat adalah Gundih-Surabaya sepanjang 245 kilometer.



Awalnya, kantor pusat NIS berada di Stasiun Semarang. Seiiring dengan berkembangnya aktivitas perkeretaapian dan bertambahnya jumlah karyawan, kantor NIS di stasiun Semarang sudah tidak layak lagi. Akhirnya Kantor NIS di pindahkan ke Lawang Sewu, yang berada di pinggir kota Semarang, tepatnya di Semarang Bodjonongweg (saat ini adalah jalan Pemuda).

Lawang Sewu memiliki lahan seluas 18.232 m2 dan berada di sekitar tugu muda Semarang. Pembangunan Lawang Sewu yang jadi kantor pusat NIS ini dimulai 27 Februari 1904 dan rampung pada Juli 1907.

Mayoritas material bangunan didatangkan dari Eropa. Arsitek pertama yang mendisain gedung ini adalah Ir. P. De Rieu, namun du Rieu meninggal dunia. Arsitektur NIS dilanjutkan oleh prof. Jacob F. Klinkhamer. Beliau lulusan sekolah arsitek di Belanda.



Lawang Sewu terdiri dari 3 bangunan utama. Dua bangunan untuk kantor dan satu bangunan untuk mencetak tiket kereta. Bangunan ini terhubung dengan jembatan. Bangunan pertama yang dibuat adalah bangunan untuk penjaga dan untuk mencetak tiket. Baru kemudian dibuat bangunan utama. Setelah beberapa tahun, bangunan untuk kantor diperluas dengan menambah bangunan sebelah timur laut pada tahun 1916 hingga 1918.



Bangunan administrasi NIS memiliki dekorasi dengan beraneka ornamen yang dibuat oleh seniman dan perajin asal Belanda. Di area penerimaan tamu, jendela dihiasi dengan kaca hias yang dibuat oleh JL Schouten of Prinsenhof Studio di Delft. Kaca Hias ini menjadi pusat perhatian dari bangunan ini.foto-foto kaca hias ini banyak beredar di media sosial.




Lawang Sewu juga memiliki ruang bawah tanah. Kabarnya ruang bawah tanah gedung ini masih seram, apalagi di dalamnya ada sumur tua. Namun pengunjung bisa masuk ke ruang bawah tanah. Untu masuk ke ruang bawah tanah dikenakan biaya 30 ribu rupiah. Sementara untuk masuk ke gedung saja tiketnya 10 ribu rupiah.



Berkunjung ke Lawang Sewu, bisa dilakukan sejak pukul 6 pagi hingga 9 malam. Di malam hari, bangunan ini sangat cantik dengan lampu-lampu yang keluar dari seribu pintu.

Happy Travelling

sarie :)



Posting Komentar