Pulau Bajo dan Senja di Flores



Matahari di ufuk barat mulai turun, warna biru langit perlahan mulai berganti dengan cahaya kekuningan. Saya lihat jam tangan, pukul 5 sore. Dari jauh saya memperhatikan pulau Bajo yang tepat berada di tengah, antara pulau-pulau di kepulauan Flores ini. Pulau kecil ini begitu menarik perhatian saya sejak pertama kali datang.


Pulau Bajo ini tampak seperti batu yang diratakan tengahnya, kemudian diujungnya disisakan dan menjadi sebuah bukit. Dari jauh, rumah-rumah di pulau ini tampak hampir sama. Penduduknya juga terlihat lebih aktif dibandingkan pulau lain. kapal-kapal kayu kecil hilir mudik bergantian singgah dari satu rumah ke rumah lain.




"Kita jadi mampir gak ke pulau Bajo" teriak Pardi, pengemudi kapal kayu yang kami sewa dari Labuan Bajo.

Teriakan Pardi mengagetkan saya yang sedang berfikir hal yang sama. Saya menoleh kearahnya, kemudian melihat suami saya. "Gimana ?" tanya saya
"Kita mampir ajalah... sambil nikmatin senja" ujar suami sambil menghisap dalam-dalam rokoknya.

Kapal langsung dibelokkan ke arah dermaga pulau Bajo. Bayu, kenek kapal kayu melempar tali ke arah dermaga dan langsung disambut oleh penduduk sana. Mereka tampak saling mengenal. Setelah kapal kayu merapat, Jangkar di turunkan.



Kami turun ke dermaga kayu dan langsung di sambut si bapak yang membantu mengikatkan tali kapal. Saya melihat arah barat, dibalik gunung-gunung matahari mulai tenggelam. Setelah bertanya di mana melihat senja terbaik, saya langsung menuju bukit yang dimaksud. Bukit ini berada di belakang desa penduduk suku Bajo. Karena suami ingin motret sunrise dari jembatan kayu, saya akhirnya naik pergi sendiri ke atas bukit.





Saya menyusuri rumah-rumah penduduk yang kebanyakan seperti rumah panggung. Rumah ini beraneka ragam, ada yang terbuat dari kayu, bambu, bahkan sudah ada yang permanen dan bagus. Tergantung kondisi keuangan setiap keluarga. Di sejumlah tempat ada bak air besar-besar untuk menapung air payau. Tinggal di tengah laut memang harus menyiapkan air payau yang umumnya dibeli dari Labuan Bajo atau pulau sekitar.







Suku Bajo terkenal sebagai suku yang suka mengembara di lautan. Tak heran bila suku yang asal muasalnya berasal dari Sulawesi ini tersebar di seluruh Indonesia. Bahkan hingga ke luar negeri, seperti Malaysia dan Thailand.

Di Indonesia, saya pernah mengunjungi suku Bajo di sekitar kepulauan Togean, Sulawesi. Mereka tinggal di tengah laut dan rumahnya terbuat dari papan. Makanya pulau yang mereka tempati dinamakan pulau papan.

Suku Bajo juga sampai di Flores. Menurut cerita, suku bajo di Flores ini berasal dari Goa, Makassar, Sulawesei Selatan. Mereka tinggal di pulau Bajo ini turun temurun hingga sekarang.

Setelah menemukan lapangan yang cukup luas, saya bertanya kembali ke penduduk. Mereka bilang tinggal belok kanan dan naik ke atas bukit.

"Hati-hati naiknya, bukitnya terjal dan berbatu-batu. Ini sudah hampir gelap" pesan seorang ibu yang saya temui.
"Baik bu, makasih ya" Jawab saya sambil bergegas menuju bukit. Langit memang mulai gelap dan semburat jingga sudah tampak di sebelah barat. Sampai kaki bukit, saya langsung ke atas. Melewati tanjakan berbatu-batu. Harus hati-hati memilih jalan, jangan sampai batu yang kita injak pijakannya tak stabil. Bukit ini gak terlalu tinggi, tapi naiknya terjal. Hanya ada beberapa pohon di atas dan sisanya rumput-rumput. Rupanya bukit ini juga dijadikan tempat untuk melepas hewan ternak, seperti kambing.


Sampai atas bukit, ah.. senangnya. Tapi Matahari sudah tenggelam. Bukit di seberang pulau ini sudah menutup matahari. Langit berubah bak lukisan dengan aneka warna. Mulai dari biru tua, abu-abu, merah, dan kuning. Ah.. indahnya..



Dari atas bukit ini kita bisa melihat perkampungan suku Bajo dan juga pulau-pulau sekitar. Bahkan jembatan kayu di ujung pulau juga bisa terlihat. Bukit ini sebenarnya sangat cocok untuk memantau kondisi sekitar. Bukit di pulau Bajo Flores ini hampir sama dengan di pulau papan. Pulau papan juga punya bukit serupa. Apakah ini tradisi suku Bajo?



Langit mulai gelap dan semburat jingga perlahan mulai hilang. Setelah puas foto-foto saya langsung turun dan menyelinap melewati rumah-rumah di perkampungan suku bajo.

Suku Bajo di Flores ini merupakan salah satu suku yang di hormati. Menurut cerita Pardi, pemiliki kapal kayu, orang-orang suku Bajo ini tak akan menjual pulau nya untuk dibuat resort. Mereka gak rakus seperti penduduk di pulau lain. Penduduk pulau Bajo memiliki peghasilan cukup dari mencari ikan di laut atau membudidayakan Lobster.

Saat ini di sekitar pulau Komodo dan Labuan Bajo sedang marak perbincangan mengenai penjualan pulau ke orang asing untuk membangun resort. Bahkan ada yang sampai jadi sengketa, karena keluarga lain tak setuju menjual pulau. Salah satunya adalah pulau bidadari.

"Seharusnya, penduduk yang punya pulau itu tidak usah lah menjual pulaunya ke orang asing. sama saja menjual negeri kita ini" Keluh Pardi. "Padahal pulau yang dijual juga harganya terbilang murah. Kalau bisa dikelola sendiri atau kerjasama kan lebih baik"



Saya hanya tersenyum mendengar cerita Pardi. Lagi-lagi, masalah ekonomi lah yang membuat para penduduk pemilik pulau tergiur menjual pulaunya. Kita lihat 10 tahun lagi, milik siapa Flores ini?
:( :(

Salam,

Sarie


Posting Komentar